Tradisi Lebaran Ketupat Di Tuban

Diposting pada

Pagi sebelum sang fajar menyingsing, terdengar sayup-sayup lantunan adzan subuh dari corong pengeras suara mushola. Terinjak bangun teringat dengan makan kupat, mengapa tradisi kupatan yang tepat seminggu setelah lebaran menjadi identik yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupatan. Malam menjelang kupatan ibu-ibu sekitar mushola biasanya merebus kupat dan lepet untuk dibawa pada acara kondangan kupatan. Tradisi ini banyak diikuti tua atau muda, serta anak-anak kecil, salah satu yang ada di bulu menjadikan sebagian daerah antusias akan tradisi ini. Menurut cerita hal semacam ini sudah ada sejak Sunan Kalijaga dan yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran. Arti Kata Ketupat, Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.

Tradisi Kondangan Kupatan di Salah Satu Desa di Kecamatan Bancar

Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Laku papat artinya empat tindakan. Ngaku Lepat, Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa. Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Laku Papat : Lebaran, Luberan, Leburan, Laburan.

Lebaran.
Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa.

Luberan.
Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin. Pengeluaran zakat fitrah.

Leburan.
Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan.
Berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding. Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

FILOSOFI KUPAT – LEPET

KUPAT Kenapa mesti dibungkus janur? Janur, diambil dari bahasa Arab ” Ja’a nur ” (telah datang cahaya ). Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki. Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja’a nur).

LEPET Lepet = silep kang rapet. Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat. Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Tradisi kupatan ini menjadikan kegiatan selametan setelah lebaran, yang masih ada didesa-desa saya. Selain senang juga menjadikan kerukunan antar warga, sembari mencicipi ketupat dengan kuah opor sebagai acara halal bi halal. Namun masyarakat desa juga ada yang menggunakannya untuk pergi ke tempat hiburan yang identik terdapat kolam renang dan pantai, Seperti Pemandian Bektiharjo, Sendang Asmoro, Sowan, Pemandian Air Hangat Prataan, Nglirip dan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *