Antara Tradisi Lebaran, Jajan Hidangan, Silahturahmi dan Teknologi

Momentum lebaran memang belum usai, tapi suasana semakin hari semakin sepi. Menengok setahun hingga dua tahun silam tradisi-tradisi lebaran masih begitu kental dengan suasana salam-salaman dari rumah ke rumah dengan berjalan kaki hingga ratusan meter pun tak terasa pegal. Perkembangan teknolgi merupakan memberikan akses kemudahan secara positif bagi sanak-saudara yang tidak bisa pulang kekampung halaman, dulu hanya modal “SMS” sekarang dengan video call kita bisa menyapa semuanya, tapi hal itu tidak berguna bagi yang sudah pulang di tanah kelahirannya. Banyak momen kecil yang terasa hampir sudah tidak dirasakan di jaman milineal, Apa saja itu? mari kita resapi momen kecil tersebut.

Pertama, Silaturahmi berkunjung ke tetangga se-Kampung maupun RT. Momen ini terasakan hampir jarang sekali untuk hadir diantara kita. Hal ini sebenarnya sangat menjadikan momen kebahagian tersendiri bagi kita, tak sebanding dengan ucapan melalui pesan messengger. Apalagi ada angpao/amplopnya besar kecil tak terasa tapi hal demikian menjadikan kita untuk saling memperat-silahturahmi.

Kedua, Jajanan hidangan yang semakin hari tak diminati. Hal ini muncul dibenak saya ketika suatu hari teman saya mem-post story whatsapp “Jajannya masih utuh, besok dibuat bekal kerja saja” Hal ini menandakan poin pertama sudah hampir tidak terbiasakan oleh generasi kecil kita. Walaupun sekedar 10-15 menit untuk duduk menyapa saudara kita. Berkumpul dalam silahturahmi itu memberikan obat penenang hati kita agar tetap muda.

Ketiga, Lebih menghabiskan lebaran untuk liburan. Bukannya mimin tidak pernah liburan, tapi ketika membaca melihat stories Sosial Media teman maupun kerabat kita sedang berlebaran jauh-jauh. Mungkin kalian muncul pemikiran dibenak kita “Eh, yo padahal koncone/sedulure omahe luwih cedhak daripada tempat nglencere. Kok malah gak silahturahmi”. Ayo siapa yang ngalamin seperti ini?

Sumber Foto : Google

Ketiga hal tersebut mungkin yang secara analisa atau pandangan logika mungkin benar sekali, sehingga menjadikan hari yang fitri ini menjadikan kurang bermakna. Hanya sekedar tanggal merah dan hari libur. Bukan makna keikhlasannya untuk saling memaafkan. Matur Suwun (Terima Kasih) semoga dapat menjadikan renungan sobat blogger!

 

 

Best Regard’s

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440H

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *